Jumat, 03 Januari 2014

TEME, AYO KITA MAKAN RAMEN



Title: TEME, AYO KITA MAKAN RAMEN
Fandom: NARUTO
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuNaru
Rating: T
                                                                                                                                                                                                               
                                                                                       
“TEEEEMMMMMEEEEEE........!!!!!!”
Cih! Suara itu lagi. Cempreng dan memekakan telinga. Sudah pasti itu Si Dobe, Naruto.
“hn.” Tanggapku malas. Aku memang benar-benar malas kalau harus berhubungan dengan makhluk satu ini. Sudah kebiasaan, sepulang sekolah dia pasti menggangguku. Walau bagaimanapun caraku untuk mempercepat langkahku, dia pasti bisa mengejarku. 
“Teme...! Ayo kita makan ramen!” teriaknya lagi saat sudah brada di sampingku. Cih! Lagi-lagi ajakan itu. Harus berapa kali aku katakan pada Si Dobe satu ini kalau aku tidak suka ramen.
“aku tidak mau.” Jawabku ketus.
“Teme, sekali saja...” dia mulai memasang puppieyes, wajah memelas anak kucing tercebur got yang minta di pungut. Ku hela napas dalam-dalam beberapa kali.
“Pokoknya tidak mau.  Aku sudah bilang aku tidak suka ramen’kan, Naruto? Pergilah, jangan ganggu aku. “ langkahku kupercepat untuk segera meninggalkan tempat itu. Tak seperti biasa, kali ini dia tak mengejarku seperti hari-hari sebelumnya. Apakah dua minggu tak bertemu dia jadi tak tertarik lagi untuk merengek-rengek seharian hanya untuk memintaku menemaninya ke kedai Ichiraku untuk makan makanan yang di sebut ‘RAMEN’? Tapi baguslah kalau memang begitu. Hari ini aku akan tenang tanpa gangguan si maniak itu.
“TEEMEEE...! SASUKE TEME PANTAT  AYAM JELEK...!! KAU AKAN MENYESAL NANTIII...!!!”
Teriakan itu tak kuhiraukan. Siapa juga yang akan menyesal kalau tidak diganggu barang satu hari saja. Yang ada, orang malah akan bersyukur jauh darimu Naruto.
                                                  ...o.o.o...
Bruk! Kulemparkan begitu saja tas selempangku ke atas ranjang, kemudian aku ikut membanting diri di kasur yang empuk itu. Lelah sekali. Hari ini terlalu banyak tugas dari guru yang harus ku kerjakan, ditambah pelajaran olahraga tidak elite dengan guru yang kelewat semangat, Guy Sensei. Ketahuilah bahwa olahraga itu bukan sesuatu yang aku sukai. Lain halnya kalau dengan Naruto, pelajaran yang paling di kuasai adalah olahraga dan selalu berbanding terbalik dengan pelajaran yang lain. Cih! Dasar Dobe.
 Tapi, kenapa dia tadi tak masuk sekolah? Malah dengan polosnya, sepulang sekolah tadi dia mencegatku dan menggangguku seperti biasa? Hn. Kenapa di saat lelah begini dengan kurang kerjaan aku memikirkan dia? Ah, sudahlah.
Ceklek! Suara pintu dibuka.
“My Otoutou...” suara yang dibuat merdu tapi terdengar mengerikan di telingaku, sudah pasti, Baka Aniki.
“Keluar..” ucapku ketus sebelum aku menutup kepalaku dengan bantal.
“Otoutou, ayo makan dulu.” Ku rasakan jemari tangan halus memegang  pergelangan kakiku dan tubuhku tertarik.
“che! Baka Aniki jangan sentuh aku..!!” teriakku sembari berusaha melepaskan diriku. Tapi apa daya, tubuhku sudah digendongnya bagaikan karung beras menuju ruang makan. Sungguh tidak elite untuk pemuda 17 tahun sepertiku. Aarrgghh.. kenapa Tuhan memberiku kakak seperti dia..?!!!
“Otoutou, teriakanmu merdu sekali..” seru baka Aniki setelah menurunkanku di dekat meja makan di mana sudah tersedia makan siangku di sana.
“Kalau kau lakukan lagi akan kubunuh kau!!!” teriakku lagi entah untuk kesekian kalinya dalam hidupku untuk menjauhkanku dari Aniki penderita kelainan jiwa ini, Dan untuk entah kesekian kalinya juga dia tidak menggubris ancamanku. Che! Dasar Baka Aniki! Dia sama saja dengan Naruto.
“Ah, aku tidak dengar apa-apa Otoutou..” dan begitulah lagi-lagi jawaban yang dilontarkanya sambil tersenyum lembut. Bisa kurasakan kedutan di kepalaku yang menyerupai perempatan jalan muncul. Ya Tuhan, selamatkan aku dari kegilaan ini.
                                                  ...o.o.o...
Piiing..! Suara nada pesan berkali-kali berbunyi dari ponselku yang tergeletak di atas tempat tidur. Aku tak berminat untuk melihat apa isinya, apalagi dari pesannya yang datang bertubi-tubi sudah dapat kupastikan itu dari Sakura, Saudara sepupu Naruto yang sama berisiknya dengan Naruto sendiri. Dan sama malasnya aku untuk meladeni manusia satu itu. Kulanjutkan lagi acara membacaku yang sempat tertunda gara-gara SMS. Tapi tak lama kemudian nada dering panggilan melantun merdu. Dengan amat sangat tak berminat ku beranjak dari meja belajarku untuk melihat siapa yang menelpon. Ck! Sakura. Yang benar saja? Dasar wanita keras kepala. Sudah cukup hari ini aku berurusan dengan manusia merepotkan. Kulemparkan lagi ponsel yang masih berdering itu ke ranjang, kunikmati alunan lagu klasik kesukaanku itu, kemudian entah mengapa aku jadi tertarik untuk  memperhatikan langit malam yang mendung dari balik jendela kamarku. Sudah sejak dua minggu lalu langit selalu berwarna kelabu, tapi hujan tak kunjung  turun. Hn, aneh.
“TEEMMMEEEEE.....!!!!!”
Ya Tuhan, teriakan itu lagi. Serasa pecah gendang telingaku mendengarnya. Dan seperti biasa, pemiliknya adalah Naruto. Si pirang itu ada di luar pagar rumahku. Tangannya dengan semangat ia lambai-lambaikan utuk menyapaku yang ada di lantai atas. Sebuah cengiran khasnya tersungging di bibirnya. Entah kenapa aku lihat ada yang beda dari Si Dobe itu hari ini. Kenapa dia terlihat begitu manis?
“Temee... turunlah, ayo kita jalan-jalan..!” teriak Naruto lalu nyengir lagi. Kalau kupikir-pikir, jalan-jalan ada bagusnya juga. Karena itulah aku langsung menyambar baju hangatku dan bergegas turun.
“Otoutou, kau mau kemana..?” tanya  Aniki dengan heran, tapi hanya kubalas deathglare ku secara Cuma-Cuma.
“YIIHHAAA...!!!” seru Naruto dengan girangnya saat aku sudah sampai di dekatnya.
“Ck! Berisik!” ketusku mendiamkannya.
“Hm, dasar Teme!”  Naruto mulai memasang ekspresi ngambeknya. Tangannya terlipat di dada, pipinya menggembung dan tidak lupa bibirnya yang mengerucut, tampak lucu dan menggemaskan. Hanya itulah ekspresi Naruto yang paling kusukai. Dia memang manis sekali kalau sedang ngambek.
“Kau benar-benar kurang kerjaan ya, Dobe? Mengajakku jalan-jalan di hari yang akan hujan begini, aku tidak akan memaafkanmu kalau aku sampai kehujanan dan sakit.” Ujarku datar.
“Hmm, itu bukan salahku Teme, memang siapa yang menyuruhmu hujan-hujanan? Kalau hari hujan, kita’kan bisa berteduh Teme. Begitu saja kau tidak tahu, katanya kau jenius?” ucap Naruto.
“Che!” aku mulai berjalan pergi dengan kedua tanganku berada di kantung baju hangatku. Udara agak dingin dan aku juga tidak suka itu. Naruto berjalan santai di sampingku, kedua tangannya ia tautkan di tengkuknya, dan senyum tak henti-hentinya terulas di bibirnya. Kami terdiam hingga beberapa jauh kami berjalan menyusuri trotoar.
“Teme, ayo kita makan ramen.” Akhirnya ia memulai pembicaraan yang dengan telak membuatku menghentikan jalanku. Hah, ajakan itu lagi. Mau sampai kapan dia berusaha membawaku ke kedai ramen dan mengajakku makan makanan yang aku bahkan jijik melihatnya. Ku hela napas dalam-dalam.
“Sudah kubilang aku tidak mau..” jawabku lirih.
“Kenapa tidak mau sih..?”
“Aku tidak suka ramen.”
“Teme,.. sekali saja aku ingin melihatmu makan ramen bersamaku.” Naruto mulai merengek lagi. Kulanjutkan langkahku dan ia mengikutinya dengan gontai.
“Kalau tidak mau ya tidak mau. Jangan keras kepala, mau sampai kapanpun aku tidak akan sudi makan makanan itu.”
“Haaahh... Dasar Teme! Padahal ramen itukan enak. Kenapa tidak mau?!”
 Kulihat ia memberantakan rambut pirangnya. Senyum tipis tak sengaja terulas di bibirku. Hari ini aku merasa aneh. Rasanya hatiku nyaman berada di dekat si Dobe. Apa itu karna ia tidak berteriak dengan suara cemprengnya? Ah, kurasa bukan tidak, tapi belum. Kami berhenti di perempatan jalan. Dari sini aku bisa lihat sebuah kedai makanan manis.
“Lebih baik kau mengajakku ke tempat yang menjual makanan manis. Aku tidak akan menolak walau tidak kau ajak..” godaku yang dibalas cibiran dari bibirnya yang imut. Dia diam saja dalam sejenak. Dan aku lebih memilih mengedarkan pandanganku untuk menikmati suasana sekelilingku. Aku baru sadar kalau ada sebuah bangku taman tak jauh dari tempatku berdiri. Sekilas aku bisa melihat pasangan muda mudi berbisik-bisik dan memandangku dengan tatapan aneh dan langsung dienyahkan saat pandanganku turtuju pada mereka. Hal itu membuatku berpikir, apa yang aneh dariku? Apa aku memakai baju hangatku secara terbalik? Ah, tapi aku yakin sudah memakainya dengan benar. Apakah ada noda memalukan di wajahku? Aku tak pernah memeriksa apa yang salah dengan tubuhku, tapi masih banyak apa-apa lain yang muncul di kepalaku.
“Teme, lebih baik kita pulang saja, aku rasa hujan benar-benar akan turun” kata Naruto yang sukses membuyarkan banyak pertanyaan di kepalaku. Kurasakan memang ada rintik-rintik air mengenai tanganku.
“Hn. Sepertinya begitu..”
                                                  ...o.o.o...
Kriiiiiiiiiing! Kriiiiiiiiiing! Bel pulang akhirnya berbunyi juga. Seisi kelas riuh karena senangnya. Huufhhtt.. hari ini rasanya hambar. Kenapa? Aku juga tidak tahu. Apa kerena teriakan si Dobe yang hari ini tidak mengganggu telingaku? Mungkin saja. Karena hari ini ia tidak masuk sekolah lagi. Batal sudah keinginanku untuk  melihat langit cerah di matanya. Sungguh aku sudah bosan dengan langit yang masih berwarna abu-abu. Padahal semalam hujan turun dengan amat derasnya. Ck. Apa jangan-jangan Naruto kahujanan saat perjalanan pulang dari rumahku dan si Dobe itu jatuh sakit? Hn, apa benar dia bisa sakit?
Drrrrt drrrrt drrrt. Ada geteran di kantongku. Mungkin ada pesan atau telepon yang masuk di ponselku. Dan benar saja, ada sekitar  15 SMS yang masuk, dan pengirimnya sudah pasti, Haruno Sakura. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh gadis itu dariku? Lagi-lagi pesannya ku abaikan. Hn. Pesan darinya sudah benar-benar menumpuk sekarang karena tak ada satu pun pesan darinya yang sudah kuhapus. Tapi sungguh aku tak berminat untuk membacanya.
Tapi, kenapa tak ada satu pun SMS yang berasal dari Naruto? Aku mendengus karena tiba-tiba merindukanya. Kenapa akhir-akhir ini aku jadi begini. Rasanya, baru dua hari ini aku sadar kalau aku nyaman dan suka berada di sampingnya. Hmm, akan kutemui dia nanti. Kalau aku punya waktu.
“TEEMMMEEEE.....!!!!!!”
Hn, raungan itu lagi. Suaranya seakan menggema di lorong sempit ini, jalan pintasku menuju rumah dengan tanpa harus berkutat dengan keramaian yang tidak aku sukai. Aku berbalik dan menemukan Naruto yang  terengah-engah, mengatur napasnya.
“Hn?”
“Ayo kita makan ramen, Temee..!”
“Ck! Itu lagi..”
“Ayolah Teme, sekali saja..”
“tidak, terima kasih..”
“huuuufffhhhtt... kenapa selalu menolak sih, Teme? Kau benar-benar tidak mau mewujudkan keinginanku yang satu ini, ya? Sungguh-sungguh tidak mau?”
“Hn.”
“sungguh-sungguh? Yakin, Teme?”
“Hn.”
“walaupun seandainya ini hari terakhirku hidup,Teme?”
“Hn,”
“HUH! JAHAT KAU TEME..!!! DASAR TEMEE PANTAT AYAM JELEEEEEKKK....” teriak Naruto sejadinya. Telingaku bahkan sampai mengeluarkan bunyi  ‘nging’ yang mengganggu.
“Naruto, sungguh kau itu manis sekali kalau saja tak  berteriak dan hampir membuatku tuli begini.” Ucapku tanpa sadar. Eh? Apa barusan yang kukatakan? Ah, aku mulai tak waras. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal itu?
“Ehehehe, Teme, kau juga manis..” cengiran lima jari tersungging di bibir Naruto yang sempat ngambek  sebentar, memamerkan barisan gigi-giginya yang teratur rapi.
“Hn.”
“Huuffhh.. kau tetap tidak mau makan ramen denganku, Teme? Sungguh kau tidak menyesal?” entah mengapa kali ini Naruto terdengar serius, tapi sungguh aku ingin sekali berteriak kalau ‘aku tidak mau makan ramen’, kalau saja aku tidak ingat image ku sebagai orang yang dingin dan dikatakan cool oleh banyak gadis-gadis.
“Baiklah! Kalau begitu aku akan makan sendiri saja! Ehehe..” sebuah cengiran kembali terulas sesaat sebelum Naruto berlari meninggalkanku sendirian di lorong itu. Sebuah lambaian tangan yang penuh semangat ditujukan padaku sebelum ia menghilang di balik pagar. Ah, sial. Aku lupa menanyakan perihal kenapa ia tidak masuk sekolah hari ini, padahal ia terlihat sehat-sehat saja. Ah, senyumnya membuatku lupa segalanya.
Drrrrt drrrrt drrrt.. Kembali ku rasakan getaran di kantongku. Apa lagi sekarang? Jangan bilang kalau ini dari Sakura. Di layar ponselku terpampang dengan jelas nama Haruno Sakura. Ahh, baiklah aku menyerah. Entah apa sebenarnya yang diinginkanya, aku akan menyuruhnya berhenti menghubungiku lewat apapun juga. Aku sudah muak dengan pesannya yang menumpuk jauh lebih banyak dari koleksi buku rancangan Leonardo Da Vinchi milikku. Dengan berat hati ku tempelkan ponselku ke telinga,
“Hn.” Dua kata faforitku yang pertama terucap dengan malas.
“Hiks, Sasake-kun.. “ kudengar suara Sakura seperti terisak. Apa yang salah?
“apa?”
“Kenapa kau baru menjawab teleponku..?”
“Aku sibuk..”
“Sasuke-kun.. hiks hiks.. Naruto..” suara Sakura tertahan, tapi sayub-sayub aku menagkap suara isak tangis.
“Kenapa kau Sakura? Ada apa memangnya dengan Naruto..?”
“Naruto...Hiks hiks.. Naruto sudah meninggal Sasuke-kun...”
Aku terdiam mendengar candaan ini. Hhh.. mana mungkin Naruto sudah meninggal padahal kami baru saja bersama. Kalau mau mengerjaiku, kau harus berpikir  ratusan kali Sakura.
“Apa? Ini sungguh tidak lucu Sakura.. Aku tutup saja teleponnya..”
“Sasuke-kun...!! Aku tidak sedang bercanda,..! Naruto benar-banar sudah meninggal! Kenapa kau menganggapku bergurau? Sasuke-kun?”
“BAGAIMANA  AKU TIDAK MENGANGGAPMU BERGURAU KALAU NARUTO BARU SAJA BERADA DI SINI...!!!!” teriakku sekeras-kerasnya pada ponselku. Aku benar-benar kesal dengan gurauan Sakura yang melibatkan kematian seseorang, apalagi itu Naruto, orang yang jelas-jelas beberapa menit lalu berteriak padaku. Kuputus sambungan telepon itu. Dadaku sesak karena marah. Aku menyesal sudah menerima telepon dari Sakura. Telepon yang rasanya aku ingin menghajar Sakura karena mengatakan kebohongan yang amat sangat tidak lucu.
Drrrt drrrt drrrt.. apalagi sekarang?! Aku nyaris berteriak karena ponselku kembali berbunyi. Kali ini telepon dari Aniki. Mau apa dia?
“Hn,”
“Otoutou-chan, ayo cepat pulang. Kita harus ke rumah sakit. Aku baru mendapat kabar dari My Danna kalau adik sepupunya baru saja meninggal. Dia temanmu, bukan?”
Telepon langsung kututup. Aku tidak mau mendengar kebohongan lagi. Sepupu dari orang yang dipanggil ‘my Danna’ oleh Baka Aniki dan adalah temanku, itu adalah Naruto. Tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Mereka pasti sudah berkomplot untuk mengerjaiku! Ya! Ini hanya lelucon! Mataku memanas, hampir saja air mataku jatuh karena sebab yang tak kuketahui.
Drrrt drrrt drrrt.. Ponselku kembali berbunyi, kali ini ada pesan dari Neji.
                         “Dengan menyesal aku kabarkan berita duka ini kepada seluruh teman-teman kelas di bawah kepemimpinanku, bahwa salah satu dari teman kita yang bernama Uzumaki Naruto, hari ini telah menutup kisah hidupnya. ...”
Tak sanggup aku membaca kelanjutan kalimat dari pesan Neji. Hatiku terlanjur sakit. Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku berlari sekencang  yang aku bisa, tidak peduli pada air mataku yang tidak bisa kubendung lagi menuju Ichiraku Ramen, kedai langganan Naruto. Bukankah Naruto tadi bilang ia ingin makan ramen? Semua orang juga tahu, Naruto pasti akan makan ramen hanya di Ichiraku Ramen.
“Naruto..!!” panggilku saat tanganku berhasil menyibak tirai setengah tiang yang menjadi pembatas kedai kecil itu. Aku tak bisa menemukan Naruto. Yang kutemukan hanya pandangan heran dari beberapa orang yang sedang makan dan dari Paman Teuchi, pemilik kedai.
“Naruto.. Paman, apakah Naruto tadi ada di sini..?!” tanyaku dengan tidak sabaran. Lelaki setengah baya itu terdiam sejenak. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
“Tabahkan hatimu, Sasuke.. Sesakit apapun rasa kehilanganmu. Relakan kepergian Naruto..” ujar paman Teuchi lembut. Eku tertegun. Tidak percaya.
“AAAAARRRRGGGHHHH......!!!!!!”
                                                  ......o.o.o......
Langkah ini, bukan.. Aku sedang berlari. Tapi lariku serasa di awang-awang. Aku mati rasa. Semuanya rasanya hampa. Yang masih kurasakan adalah rasa sakit kehilangan orang yang tersayang.. Di sini, di perasaanku yang baru saja hancur berkeping-keping.
“Naruto..” satu nama yang saat ini paling ku ingat. Satu nama yang masih ku panggil, tidak perduli pemiliknya masih bisa mendengarnya atau tidak. Tapi, aku harap masih. Agar aku pun bisa mengutarakan perasaanku padanya selama ini. Aku harap semua kejadian hari ini hanyalah kebohongan. Hanya sebuah rencana pintar untuk mengerjaiku. Ya, ini rencana yang pintar untuk membuatku terlihat  bodoh di depan semua orang. Akan kuhajar kau nanti Naruto!
Langkahku terhenti di sebuah lorong, pandangan mata orang-orang yang ada di sana tertuju padaku. Pandangan mata kasihan. Aku benci pandangan itu!
“Sasuke-kun...?” Sakura yang terisak di sana memenggil namaku. Wajahnya memerah seperti orang yang habis menangis. Sapu tangan putihnya ia genggam hingga tak berbentuk lagi. Aku diam. Kutatap bibi Kushina dengan tatapan berharap kalau ini semua tidak terjadi.
’ Naruto, ia belum mati’kan?’
 Melihatku seperti orang bodoh, ia langsung memelukku, terisak di pundakku, air matanya kurasakan mengalir di pundakku.  
Sekarang aku merasa dingin. Air mataku tak bisa lagi mengalir dari mataku. Aku masih percaya kalau Naruto masih baik-baik saja. Sampai kulihat ranjang dorong keluar dari ruangan yang disebut ICU. Sesuatu tergeletak di sana, di balik kain putih. Kulepaskan pelukan bibi Kushina dariku untuk menghampiri benda itu. Kulihat helaian rambut pirang menyembul dari balik kain.
‘ Benarkah itu kau Naruto? Saat kubuka kain penutup ini, langsunglah berteriak padaku, Naruto, lihatlah wajah bodohku ini. Kau berhasil mengerjaiku, Naruto.’
 Kuhela napas dalam-dalam. Memantapkan mentalku yang sedari tadi hilang. Kutarik kain putih itu pelan-pelan. Dan terlihatlah wajah yang sama sekali tak pernah kulupakan. Ini benar-benar Naruto. Tapi, kenapa kau diam saja Naruto? Kenapa kau tidak segera bangun?
Wajah kusut nan pucat milik Naruto kusentuh. Wajah yang sungguh aku baru melihatnya tersenyum dengan cerahnya. Sungguh, baru beberapa menit lalu. Tapi, kenapa sekarang sudah dingin? Benarkah kau sudah mati, Naruto?
“ Naruto.. Cepat bangun! ini tidak lucu..” ucapku datar. Naruto tetap diam.
“Sasuke-kun, Naruto sudah...”
“TIDAAAK!!! NARUTO! KAU BARU SAJA MENGAJAKKU MAKAN RAMEN’KAN? LALU KENAPA SEKARANG KAU SUDAH TERGELETAK DISINI..?!!” aku berteriak sejadinya. Sungguh aku tidak ingin percaya hal ini, tidak mau!
“Naruto cepat bangun..!! cepat banguun..!” kugoyang –goyangkan tubuh Naruto berharap ia akan bangun, tapi ia tetap diam. “Apa kau pikir aku akan makan ramen dengan cara seperti ini Naruto, kau salah!! Ini tidak lucu! Cepatlah bangun dan ayo kita makan ramen. Ajak aku makan ramen, Naruto! Kali ini aku tidak akan menolak, NARUTOOO!!!!”
“Hentikan Sasuke, Naruto sudah tiada..” ucap Sasori-nii sembari memegangiku karena aku yang semakin beringas menggoyang-goyangkan tubuh dingin Naruto.
“TIIIDAAKKK....!!! INI BOHONG!!”
Bajuku, aku remas bajuku karena rasa sakit yang rasanya mau meledakkan dadaku. Tenggorokanku sakit akibat tangisku yang ku tahan. Tidak, sudah tidak lagi. Aku menagis sejadinya, histeris yang sungguh aku tak pernah membayangkan akan terjadi padaku.
“NARUTOOO...!!!”
                                                  .....o.o.o....
“kenapa kau tak memberitahuku, Sakura..?” ucapku datar. Pemakaman Naruto baru saja usai. Para pelayat sudah pulang. Hanya tinggal aku dan Sakura di sana, di samping makam Naruto. Sakura menoleh padaku heran. Sungguh aku merasa bodoh ditatap seperti itu. Sejenak ia diam, kemudian menghapus air matanya yang kembali membasahi pipinya.
“Aku sudah berusaha, Sasuke-kun.. Tapi aku kira kaulah yang tak merespon semua pemberitahuan dariku.. aku tidak tahu kalau kau benar-benar membenciku hingga tak satu pun pesanku yang kau buka, atau pun panggilanku yang kau jawab.”
“Sakura..?”
“Semua pesan dari dua minggu terakhir yang kukirimkan, semuanya tentang keadaan Naruto. Aku kira kau sibuk.”
“Sial..”
“Naruto, dia sudah berusaha ingin memberitahumu tentang kondisinya yang memprihatinkan itu, Sasuke-kun. Tapi dia takut kau akan menjauhinya.. Dia takut kau khawatir, apalagi saat itu kau sedang ikut olimpiade’kan, Sasuke-kun.. dia tidak mau karena khawatir kau jadi tidak fokus.”
“Cih! Bagaimana Dobe bisa menyembunyikan sakit itu dariku selama bertahun-tahun? Sakit separah itu dan aku tak pernah tahu. “
“Sasuke-kun..?”
“Kangker paru-paru sialan!”
                                                  .....o.o.o....
“TEMMEEE...!! Ayo kita makan ramen..!!” aku tersenyum tipis. Senyum menyedihkan ini. Senyum yang hanya bisa ku ulas karena rekaman gambar Naruto semasa hidupnya. Rekaman dari suara terakhir Naruto sebelum jatuh koma. Gerakan terakhirnya dengan tubuh ringkihnya itu. Cengiran terakhir sebelum ia tak bisa nyengir lagi.
“TEMMEE JELEEKKK...!!! Kenapa kau tidak menjengukku di Rumah Sakit Temee..? Harusnya kau datang dengan ramen porsi besar, Teme! Lalu kita makan sama-sama!” teriakan Naruto yang memekakkan telinga sebelum ia tidak bisa berteriak lagi.
“Teme, maaf aku tidak memberitahumu dari awal soal penyakitku. Hm.. Aku tidak perduli walau kau marah, tapi... Aku ingin makan ramen bersamamu Teme. Ehehe, sebelum aku tidak bisa makan ramen kesukaanku lagi. Cepatlah datang Teme, aku menunggumu di rumah sakit!!”
Air mataku mengalir membentuk sungai di pipi pucatku.
“Teme pantat ayam jelek! Aku akan menghajarmu kalau kau tidak datang! Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan memaksamu makan ramen bersamakuu!! Aku akan memaksamu makan hingga kau tidak bisa bergerak dua hari..!”
Sebuah ekspresi ngambek yang kini aku rindukan. Naruto, kini hanya bisa ku pandang di layar ponselku. Dan itu, hanya sebuah rekaman.
Ku letakkan semangkuk ramen porsi besar di atas gundukan tanah pusara, di mana jasad Naruto tertidur di sana. Kemudian aku duduk di sampingnya, dengan berat hati aku menyesap kuah ramen milikku sendiri.
“Cih! Naruto, Dobe.. sudah kubilang aku tidak suka ramen..” omelku pada angin yang berhembus lembut. Harum tanah pemakaman yang semalam terguyur hujan menyapa hidungku. Dan kulanjutkan acara makanku, kemudian aku mengomel lagi. Begitu seterusnya setiap satu suapan.
“Aku sudah bilang, aku tidak suka ramen, Dobe..”
Aku teisak. Menyesali perbuatan bodohku. Andai saja aku menanggapi semua pesan dari Sakura, aku tidak akan merasa hina seperti ini. Andai saja aku menjawab telepon darinya yang sesungguhnya dengan baik hati ingin mengabarkan keadaanmu, Naruto, andai saja aku paham apa yang dibisikkan muda-mudi di jalan itu, yang menganggapku aneh karena bicara sendiri saat arwahmu datang kepadaku, Naruto. Kau yang mengajaku makan ramen. Maaf aku tidak bisa mewujudkan keinginan terahirmu, tidak mewujudkannya saat kau masih hidup. Dan sekarang saat kau telah tiada, ini semua sudah terlambat’kan, Naruto? Aku sungguh-sungguh minta maaf, Naruto. Maaf...
“Naruto.. Aku merindukanmu.. Ajaklah aku makan ramen lagi, Naruto..”
                                                                                                                                                               

                                                                                                                                                                                TAMAT

Penulis: Shiryu Ayres

Tidak ada komentar:

Bisnis Online